Membangun Identitas di Tanah Minahasa
Luas Tanah Desa -+ 1,3Km persegi
Sejarah terbentuknya Desa Bojonegoro di Kabupaten Minahasa Selatan berkaitan erat dengan sejarah komunitas Jawa Tondano (Jaton) yang berkembang di wilayah Minahasa. Komunitas ini berasal dari para pengikut Pangeran Diponegoro yang diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda setelah berakhirnya Perang Jawa pada tahun 1825–1830. Salah satu tokoh penting yang diasingkan ke wilayah Minahasa adalah Kyai Mojo, seorang ulama sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro.
Setelah perang berakhir pada tahun 1830, Kyai Mojo bersama para pengikutnya ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda dan diasingkan ke wilayah Tondano di Minahasa. Di tempat pengasingan tersebut mereka ditempatkan di daerah sekitar pesisir Danau Tondano dan kemudian membangun pemukiman yang dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano (Jaton).
"Masyarakat Jawa Tondano akhirnya menetap secara permanen di wilayah Minahasa dan membangun kehidupan baru yang memadukan unsur budaya Jawa dan budaya Minahasa."
Selain Kyai Mojo, tokoh pejuang lain yang pernah diasingkan adalah Tuanku Imam Bonjol. Keberadaan tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa wilayah Minahasa pernah menjadi tempat pengasingan bagi tokoh-tokoh perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat mengandalkan sektor pertanian. Salah satu tanaman penting adalah **Pohon Enau (Seho)**. Pohon ini menghasilkan nira untuk gula aren dan sagu sebagai bahan makanan, yang menjadi faktor penentu lokasi pemukiman baru bagi warga kala itu.
Sekitar tahun 1920-an, seiring kebutuhan lahan, sebagian warga Kampung Jawa Tondano pindah ke wilayah Minahasa Selatan. Mereka menemukan wilayah yang kini dikenal sebagai **Desa Bojonegoro** di Kecamatan Maesaan. Nama Bojonegoro sendiri berasal dari bahasa Jawa: *Bojo* (Istri) dan *Negoro* (Negara/Wilayah).
Sejak awal, sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi. Pemerintahan desa telah dipimpin oleh beberapa tokoh, mulai dari Tn. Mashanafi sebagai Hukum Tua pertama, hingga saat ini jabatan Hukum Tua dipegang oleh **Felma Legi**.
"Perpaduan budaya Jawa Tondano dan Minahasa membentuk identitas sosial yang khas dan harmonis di Desa Bojonegoro hingga hari ini."
Seputar Desa